Wednesday, May 16, 2007

Pengusiran/PEMBANTAIAN Yahudi dari Medinah oleh Muhamad (Bag 1)


http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=2720
http://www.faithfreedom.org/Articles/sina/jews.htm

APA YANG TERJADI DENGAN YAHUDI MEDINAH

Ini adalah riwayat dari akhir keberadaan bangsa Yahudi di Medinah (atau disebut juga : YAHTRIB). Suatu kisah mengenai pembantaian etnik, pengkhianatan, dan genocide yang dilakukan oleh utusan Allah. Sang nabi saw menjarah komunitas Yahudi yang telah tinggal selama 2000 tahun di Medinah, membunuh kaum pria-nya, merampok barang-barang mereka, memperkosa istri dan anak mereka dan melenyapkan mereka tanpa pandang bulu dari wilayah milik mereka. Motif satu-satunya Sang Nabi Suci melakukan semua ini adalah TIGA TA : TAHTA, HARTA, WANITA.

Ini ditegaskan oleh sejarawan Muslim sendiri. Banyak pembela Muslim mengurangi pentingnya arti kehadiran dan jumlah bangsa Yahudi yang ada di Medinah saat itu. Dr. A. Zahoor dan Dr. Z. Haq menulis, ”Sejarah tidak mencatat terlalu banyak mengenai saat migrasi pertama bangsa Yahudi dari Utara ke Yathrib dimulai dan jumlah mereka juga tetap kecil pada saat mereka tinggal di sana. (1)”

Maududi dlm komentarnya di Surah 99 Quran (2) melaporkan dari “Kitab al-Aghani” [sebuah buku berisi lagu pujian, sebuah sumber informasi yang penting bagi komunitas Muslim abad pertengahan. Vol xix, p.94, oleh Abu al-Faraj Ali dari Esfahan (897-967) ]:

KEBERADAAN YAHUDI DI HIJAZ

“Orang Yahudi di Hijaz mengklaim bahwa mereka telah datang untuk bermukim di Arabia pada masa-masa terakhir hidup Nabi Musa (saw). Mereka mengatakan bahwa Nabi Musa telah mengutus tentara untuk mengusir bangsa Amalek dari tanah Yathrib dan telah memerintahkan mereka untuk membunuh semua orang di suku tersebut. Tentara Israel melakukan perintah Musa, tetapi juga melakukan pelanggaran yaitu mengampuni nyawa seorang pangeran berwajah tampan dari bangsa Amalek dan mengembalikannya ke tanah Palestina. Pada saat itu Nabi Musa telah meninggal dunia, penggantinya mengambil tindakan tegas atas apa yang telah dilakukan oleh para tentara itu , dengan alasan bahwa karena tentara itu membiarkan hidup seorang pangeran Amalek maka mereka telah jelas-jelas melanggar perintah Nabi dan telah menyalahi Hukum Musa. Sebagai konsekuensinya, mereka dikucilkan dari komunitas, dan mereka diharuskan kembali ke Yathrib dan tinggal di sana selamanya.

Migrasi bangsa Yahudi yang kedua ke Medinah (menurut bangsa Yahudi) terjadi pada 587 SM. Ketika Nebukadnezar, Raja Babilon, menghancurkan Yerusalem dan membuat kaum Yahudi terpencar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Yahudi yang tinggal di Arab berkata bahwa beberapa diantara suku-suku mereka pada saat itu telah bermukim di Wadi al-Qura, Taima, dan Yathrib (Al-Baladhuri, Futuh al-Buldan)”

Maududi membantah kedua klaim itu dan berkata, ”Hal-hal tersebut sesungguhnya tidak mempunyai basis sejarah dan kemungkinan Yahudi telah mengarang cerita itu dengan tujuan menyanggah pendapat bangsa Arab yang percaya bahwa mereka adalah garis keturunan yang syah dari kaum asli yang bermukim di daerah itu.”

Tetapi bagaimanapun juga Maududi mengakui,”Terbukti bahwa pada thn 70 AD, bangsa Roma telah membantai kaum Yahudi di Palestina, dan pada thn 132 AD mengusir mereka dari tanah itu, sehingga banyak kaum Yahudi yang melarikan diri untuk mencari suaka di Hejaz, suatu daerah yang bersebelahan dengan tanah Palestina di bagian selatan. Di sana, mereka bermukim ditempat dimana mereka bisa mendapatkan sumber mata air dan tumbuh-tumbuhan, dan kemudian tipu daya dan melalui bisnis peminjaman uang secara bertahap mereka menduduki tanah yang subur. Ailah, Maqna, Tabuk, Taima, Wadi al-Qura, Fadak, dan Khaibar berada di bawah kekuasaan mereka pada masa itu. Sementara itu Bani Quraizyah, Bani al-Nadir, Bani Bahdal, dan Bani Qainuqa juga datang pada masa yang sama dan menduduki Yathrib.

Karena tidak ada bukti sejarah yang kuat selain sejarah versi Maududi maka kita bisa saja berkesimpulan bahwa Muslim (mungkin juga Maududi juga seorang Muslim) mengarang cerita itu untuk meniadakan “garis keturunan yang syah dari Bangsa Yahudi sebagai penduduk daerah Yathrib”. Tampaknya, kaum Yahudi yang telah lama bermukim di Yathrib dan bahkan dari pengakuan Maududi sendiri sebagai, ”secara praktis pemilik dari tanah yang hijau dan subur itu”(2) hanya memberikan sedikit bukti mengenai keberadaan-nya.

Sementara itu di lain pihak, Muslim yang membenci Yahudi dimulai dari jaman Muhamad sendiri dan bahkan cendekiawan terkenal seperti Maududi tidak bisa menyembunyikan kebencian-nya terhadap Yahudi pada tulisan-tulisan yang dibuatnya & menunjukkan bahwa Muslim membuat cerita palsu untuk menutupi pengusiran dan pembersihan etnik Yahudi dari tanahnya sendiri.

Tetapi bagaimanapun juga, sejarawan Muslim mengakui bahwa kaum Yahudi yang tinggal di Arab telah bermukim di Yathrib selama beratus-ratus tahun. ”Dlm bidang bahasa, busana, kependudukan dan cara hidup, mereka telah benar-benar mengadopsi cara Arab, bahkan nama mereka telah berciri Arab. Dari 12 suku Yahudi yang bermukim di Hejaz, tidak ada satupun kecuali Bani Zaurah yang mempertahankan nama Yahudi mereka. Malah, tidak ada dalam puisi kaum Yahudi pada masa sebelum Islam yang bisa membedakan-nya dari puisi bangsa Arab dalam bidang bahasa, ide, dan tema puisi-puisi itu. Bahkan mereka mengadakan perkawinan campuran dengan bangsa Arab. Kenyataan lainnya, tidak ada suatu halpun yang membedakan mereka dari bangsa Arab kecuali agamanya. Karena gaya mereka yg ke-Arab-Araban inilah, maka peneliti Barat banyak salah anggap bahwa mereka bukan benar-benar Yahudi melainkan Arab yang telah memeluk Judaisme, atau paling tidak mayoritas dari mereka adalah Yahudi-Arab (tidak lagi murni Yahudi). “(2)

Mungkin saja para pemikir Barat tidak terlalu jauh dari kenyataan. Karena walaupun kaum Yahudi bermigrasi ke Arab selama ratusan tahun, atau bila kita mau menerima sejarah versi Yahudi yang menyatakan mereka tinggal di sana selama 2000 tahun, bahkan mereka telah kawin campur dengan bangsa Arab, bagaimanapun mereka adalah bangsa Arab.

Maududi menulis, “Tidak ada bukti sejarah bahwa kaum Arab Yahudi benar-benar pernah ada di dunia. Mereka tidak meninggalkan tulisan apapun dalam bentuk buku atau ukiran batu yang bisa menjadi titik terang mengenai masa lalu mereka, tidak juga ada sejarawan Yahudi dan penulis di luar dunia Arab yang menyatakan ttg keberadaan mereka. Alasan di balik semua itu adalah karena setelah mereka bermukim di jazirah Arab mereka telah melepaskan diri dari kebangsaan mereka, dan kaum Yahudi di seluruh dunia tidak lagi menganggap mereka sebagai bagian dari Yahudi. Karena mereka telah melepaskan kebudayaan Yahudi, bahasa, bahkan nama mereka, lebih lagi karena mereka telah mengadopsi budaya Arab.” (2).

Alasan lain mengenai mengapa tidak ada sejarah yang otentik mengenai Yahudi Arab adalah karena Muhamad telah menghancurkan mereka semua. Tidak ada orang mati yang bisa menulis sejarah, bukan ?

Bila bangsa Yahudi telah berkarakteristik Arab bahkan tidak bisa lagi dibedakan dengan bangsa Arab yang lain, maka mungkin saja masuk akal versi Yahudi mengenai sejarah adalah lebih akurat dan bahwa kaum Yahudi telah tinggal di Arab jauh sebelum yang diperkirakan sejarawan Muslim. Bahkan, sekalipun kita harus menerima sejarah versi Muslim, kita bisa simpulkan bahwa kaum Yahudi tersebut telah membuat Arabia sbg tempat tinggalnya 500 tahun sebelum kelahiran Muhamad; dan mereka berhak mengklaim wilayah mereka (Yathrib).

PENDUDUK NON-YAHUDI LAINNYA

Pada masa 450 atau 451 AD, terjadi banjir besar di Yaman yang memaksa berbagai suku dari rakyat Saba untuk bermigrasi ke bagian lain di Arabia. Diantara mereka ada suku Aus dan Khazraj yang pergi dan menetap di Yathrib. Dua suku ini besar tetapi terbelakang. Berbeda dengan Yahudi yang telah menguasai perdagangan dan menjadi pemilik hampir semua bisnis di Yathrib, bangsa Arab yang sebenarnya memperoleh penghidupan dengan menjadi pelayan kaum Yahudi di pertanian atau rumah tangga Yahudi. Mereka dipandang rendah oleh Kaum Yahudi, yang kemudian menjadi pokok permasalahan.

Selain itu, kedua suku ini tidak bisa bersatu dan kemudian berusaha mengikat persekutuan dengan suku-suku Yahudi. Ini berjalan dengan baik; karena Bani Qainuqa tidak bersahabat dengan baik dengan kedua suku Yahudi yang lain. Dengan demikian Bani Qainuqa dan Khazraj menjalin persekutuan. Sedangkan Bani Quraizah, Bani Nadir, dan Aus bergabung bersama. Adalah penting untuk dicatat perseteruan ini bukanlah karena alasan agama tetapi karena persaingan antar suku.

Maududi berkomentar, ”Karena hal inilah, maka kaum Yahudi tidak saja ikut bagian dalam berbagai perang antar kelompok di Arab, tetapi mereka juga ikut perang membantu suku-suku Arab yang menjadi sekutunya melawan kaum Yahudi lain yang menjadi sekutu kelompok Arab lain yang jadi musuh”

Bila kita bisa melihat melalui kabut tebal prasangka yang telah menyempitkan pandangan para cendekiawan Muslim, maka sebenarnya bisa saja kita beranggapan bahwa suku-suku yang ada di Medinah semua adalah Arab yang memeluk agama yang berbeda-beda. Dan sebagaimana suku atau bangsa lain yang ada di dunia diantara mereka juga terjadi persaingan, tetapi dilihat dari struktur perserikatan mereka, konflik-konflik itu tidak terjadi karena alasan agama. Hal ini sangatlah penting untuk dicatat. Konflik antar suku hanya ada dalam kurun waktu yang pendek, tetapi kebencian antar agama akan selalu ada selamanya.

Dalam perkembangan selanjutnya,Muhamad-lah yang telah menghembuskan kebencian antar agama. Muhamad jugalah yang harus dicap sebagai penyebab pertentangan antar agama di Arab atau bahkan di seluruh dunia.

Muhamad juga dianggap sebagai pemersatu seluruh suku Arab. Hal itu mungkin saja benar. Tetapi tanpa dia-pun, suku-suku itu suatu hari akan melupakan perang yang terjadi diantara mereka. Sama seperti yang terjadi dimana-mana di seluruh dunia, bahwa ada banyak suku-suku yang mula-mula berperang, kemudian bersatu untuk membentuk bangsa yang lebih kuat.

Muhamad menyatukan Arab dan mengubah mereka menjadi kekuatan yang besar, untuk menginvasi negara lain, menghancurkan peradaban yang lain dan memaksakan bahawa, kebudayaan, dan agama mereka kepada orang lain yang ditaklukan.

Dengan memeluk Islam, Arab telah diuntungkan dari segi ekonomis dari persatuan yang terbentuk, tetapi bahaya dari kebencian agama yang dipercikkan Muhamad kepada seluruh manusia telah mengalahkan semua keuntungan yang pernah didapat dari persatuan yang terbentuk dari gabungan beberapa suku Arab tersebut.

HIJRAH KE MEDINAH

Arab selalu dalam keadaan perang satu sama lain. Tetapi diantara mereka, orang Mekah-lah yang mempunyai posisi yang menguntungkan. Ka’bah yang merupakan simbol tempat suci bagi seluruh Arab terdapat di Mekah. Itu adalah tempat ziarah yang berarti uang dan kekuasaan bagi penduduk Mekah.

Ketika Abu Thalib, paman Muhamad dan istrinya, Khadijah, meninggal, maka ia kehilangan pendukung kuat dan penduduk Mekah menaikkan tekanan-nya terhadapnya. Ia menerima tawaran beberapa orang dari Bani Thaif bahwa bila Muhammad menjadikan kota mereka sebagai tempat suci bagi agama yang baru diciptakan-nya (dengan demikian kota mereka nantinya akan jadi tempat religius dan berkumpulnya pengikut agama Muhammad) maka Bani Thaqif, penduduk wilayah Thaif, akan membantu dia.

Maka Muhamad dan anak laki-laki yang diadopsinya, Zaid ibn Harith, secara diam-diam pergi ke Taif pada 620 AD mencari perlindungan dari komunitas yang ada di sana dan berjanji akan membuat kota mereka sebagai salah satu tempat suci untuk Muslim. Tetapi sebaliknya yang terjadi ternyata sebagian besar Bani Thaqif mengolok-oloknya dan bahkan permohonan-nya agar kunjungan-nya ke sana dirahasiakan tidak dikabulkan. Pemimpin Taif mungkin saja telah memusuhi penduduk Mekah, tetapi mereka tidak mau menambah resiko yang membahayakan hidup mereka karena melindungi pemeluk agama yang tidak jelas.

Ketika orang Quraish tahu mengenai rencana pembuatan Mekah sbg kita suci Muslim, mereka sangat marah dan menaikkan tekanan kepada Muhammad sampai akhirnya beberapa tahun kemudian mereka memutuskan untuk membunuhnya.

Muhammad mengetahui rencana pembunuhan terhdp dirinya dan melarikan diri ke Yathrib. Di Yathrib, ia mempunyai beberapa pengikut, mereka berasal dari suku Khazraj dan Aus. Kedua suku ini takut pada perang berkepanjangan, terutama karena perang yang baru saja terjadi (Perang Bu’ath) diantara mereka. Mereka sedang berupaya mencari jalan untuk mengakhiri kekerasan itu. Jadi berkumpullah kedua pemimpin suku itu yg setuju agar Muhammad dijadikan penengah.

SURAT PERJANJIAN

Adalah suatu kebiasaan universal bahwa dua pihak yg berselisih mengangkat seorang mediator sbg penengah. Muhammad, yang semula dianggap sebagai orang asing dengan demikian dianggap tidak memihak salah satu sukupun, diminta untuk menjadi juru pisah atas konflik-konflik yang terjadi kemudian. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa konflik yang terjadi di Yathrib tidaklah terjadi antara Muslim dan Yahudi; karena jika demikian Muhamad tidak mungkin dianggap sebagai penengah.

Juga telah kita lihat sebelumnya tidak ada perseteruan agama yang terjadi di Yathrib. Tetapi bagaimanapun, kaum Yahudi adalah bagian dari perjanjian itu karena mereka mengikat perserikatan dengan suku-suku Arab.

Ini tentulah menjadi kesempatan emas bagi karir kenabian Muhammad yang sudah lama ia impikan. Sebagai bagian dari perjanjian itu, suku-suku itu tentulah akan melindungi sang Nabi dan juga anak istrinya dari serangan penduduk Mekah.

Jumlah mengikut Muslim di Yathrib semakin bertambah karena Yahudi menawarkan tempat mereka itu sbg tempat pengungsian aman bagi imigran Muslim. Yahudi tidak sekalipun memperkirakan bahwa orang yang telah mereka berikan suaka akan berbalik melawan mereka, apalagi menghancurkan mereka.

Perjanjian itu tidaklah memberikan kekuasaan untuk memerintah. Ibnu Hisham melaporkan sebagian dari perjanjian itu. Tetapi sebagaimana yang akan kita lihat, perjanjian itu telah dimanipulasi. Tertulis:

“Yahudi harus menanggung pajak mereka dan Muslim juga harus menanggung pajak mereka. Masing-masing pihak harus membantu yang lain dari ancaman pihak luar. Mereka harus mengutatamakan saling membantu, berkonsultasi, dan kesetiaan dan tidak melakukan pengkhianatan. Mereka harus dengan sungguh-sungguh berdoa bagi keselamatan pihak lain. Hubungan antar pihak ini didasarkan pada kesalehan dan kemauan untuk mengakui hak-hak pihak lain, tidak didasarkan atas dosa dan perbuatan tercela. Orang yang bersalah harus dibantu untuk diperbaiki. Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung. Yathrib akan menjadi tempat perlindungan untuk orang-orang yang ada di dokumen ini. Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhamad sebagai utusan Tuhan; kaum Quraish dan sekutunya tidak boleh diberi bantuan dan perlindungan. Pihak-pihak yang ikut dalam perjanjian ini haruslah saling membantu dalam melawan setiap serangan ke Yathrib; setiap orang haruslah bertanggung jawab mempertahankan tanah dimana ia tinggal” (Ibn Hisham, vol. ii, pp 147-150)

Ada beberapa petunjuk bahwa dokumen perjanjian itu telah dimanipulasi. Hal yang paling nyata adalah bahwa tidak mungkin Yahudi mau menandatangani dokumen yang mengakui bahwa Muhamad adalah utusan Allah. Karena hal ini berarti penerimaan atas pernyataan Muhamad bahwa ia adalah utusan Allah, yang jelas tidak akan pernah terjadi. Jadi nyatalah bahwa dokumen di atas, kelihatannya telah dimanipulasi.

Juga ada beberapa kontradiksi dalam konteks dokumen tersebut. Ini diawali dengan adanya suatu perjanjian yang ditangani oleh dua suku yang berkuasa yang mempunyai hak dan kekuatan yang sama. Tetapi kemudian terdapat kalimat, ” Yahudi harus ikut serta membantu orang beragama lain selama perang berlangsung “ dan “Bila ada konflik atau pertikaian yang akan menimbulkan masalah besar, maka haruslah diserahkan kepada Tuhan dan Muhammad sebagai utusan Tuhan;” menyatakan adanya suatu kesan adanya ketidakseimbangan.

Pernyataan-pernyataan tersebut nampaknya disisipkan belakangan. Pernyatan itu membuat Muslim mempunyai kekuatan yang lebih, padahal di bagian yang lain di perjanjian dikatakan bahwa semua pihak mempunyai hak yang sama. Point yang paling penting adalah bagaimana mungkin Muhammad dianggap sebagai penengah sementara ia sendiri adalah pihak yang diuntungkan dari perjanjian itu ??

Mengherankan bahwa cendekiawan Muslim mempelajari surat tersebut selama berabad-abad dan tidak mempertanyakan bagaimana mungkin Muhammad diangkat menjadi penengah dalam sebuah perjanjian padahal ia sendiri ikut sbg salah satu pihak dlm perjanjian itu ???

Hal-hal itulah yang menguatkan bahwa perjanjian tersebut tidak otentik. Tetapi karena Muhamad dan pengikutnya telah menghancurkan dokumen yang asli, maka tidak ada satupun yang tertinggal untuk kita, kecuali dokumen yang cacat tersebut.

PERANG SUCI

Setelah terjadi insiden di Badr dimana pengikut Muhamad menyerang karavan milik saudagar dan mengambil barang rampasan, maka berubahlah nasib Muhammad. Ia menjadi kaya karena barang rampasan itu, dan popularitasnya meningkat. Ia menjanjikan kekayaan dan budak perempuan kepada mereka yang mengambil bagian dlm pasukan perampoknya dan juga surga dengan pelayan-pelayan cantik dan sungai anggur untuk mereka yang mati shahid.

Untuk seorang pengikut fanatik yang bodoh dan rakus, ini merupakan tawaran yang tidak bisa ditolak. Bila mereka selamat, maka mereka akan mendapat bagian dari barang rampasan termasuk dapat wanita-wanitanya; tetapi bila mati, mereka akan masuk surga dengan imbalan yang serupa ditambah dengan nikmat dari Allah.

Yang menarik adalah bahwa bangsa Arab tadinya memiliki nilai-nilai kesusilaan yang diterapkan pada saat mereka menangkap wanita yang telah menikah, tetapi Nabi Allah telah mencabut nilai-nilai kesusilaan itu dan menyatakan bahwa adalah legal bagi seorang pria untuk mempunyai hubungan sexual dengan wanita yang tertangkap dalam perang. (Q. 4:24)

Yahudi memiliki agamanya sendiri, tidak bisa menerima doktrin Muhamad ttg ke-Nabiannya. Bahkan mereka mungkin menertawakan Muhamad dan pengikutnya. Hal itu tentunya dengan jelas bisa dimengerti. Bayangkan saja bagaimana Muslim bereaksi, bila ada orang diantara mereka yang meng-klaim dirinya adalah nabi Allah dan memulai agama baru. Jawabannya bisa ditemukan pada kejadian penganiayaan pengikut Baha’i.
------------------------------------------------

1) http://users.erols.com/zenithco/treaty22.html#note1

2) http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau59.html

BERSAMBUNG KE:

APA YANG MUHAMMAD LAKUKAN terhdp:

- BANI QAINUQA

- BANI NADIR

- BANI QURAIZA

10 comments:

Putra Rembulan said...

yang benar aja!

Putra Rembulan said...

Allah tidak akan merugi dengan semua/segala yang Anda hujat baik itu tentang Allah SWT, maupun Rasul-Nya ; Muhammad. Hal ini telah termaktub di dalam Alquran (silahkan anda cari sendiri ayatnya).
Semoga Allah selalu memberikan Rahmah-Nya, banyak rezeki, panjang umur, dan semakin dipertinggi ilmu kepada Anda.

joker said...

hehehe
nice try buat meragukan iman seorang Muslim....

sebuah usaha yang bagus dari mulai pengalaman pribadi yang terlalu dibuat-buat...sampai modifikasi sejarah
tapi percayalah....
walau semua makhluk ini beriman atau tidak, Allah tidak akan berkurang sedikitpun kekuasaan nya
ISlam akan tetap jaya...

bertobatlah....

muslim said...

Islam adalah penyempurna semua ajaran para nabi dan rasul terdahulu,yang sebenarnya ajaran para nabi dan rasul itu sudah hangus terbakar zaman, maka allah mengutus nabi yg terakhir Muhammad SAW untuk penyempurna.kami kaum muslimin bukan penjajah anda memutar balikan fakta, justru yahudi lah yg penjajah. sejarah dan fakta zaman ini membuktikan. kami para mujahidin dan kaum muslimin bukan perusuh kami membela agama kami, anda orang buta baik mata ataupun hati, karena anda tidak memahami ulumul Quran hanya sedikit mengerti bacaan dan artinya saja. dan sayapun tau anda tidak memahami ulumul injil dan taurat anda menggunakan talmud sebagai pedoman, anda itu kafir kepada ajaran isa, musa, dan Muhammad SAW dan anda halal untuk di bunuh.

lara w said...

bila tahu tentang kebenaran mengapa masih ada kebencian...

lagi pula agama bukan suatu paksaaan tapi pilihan...

klo dosa juga masing2 kan...

lara w said...

bila tahu tentang kebenaran mengapa masih ada kebencian...

lagi pula agama bukan suatu paksaaan tapi pilihan...

klo dosa juga masing2 kan...

sobat muda said...

Bismillahirrahmaani rrahiim.
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara dengan TVOne
mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember lalu, adalah serangan
ilegal yang telah terjadi selama puluhan tahun. Dalam ulasan berita di MetroTV
disebutkan, serangan Israel kali ini merupakan kejadian paling buruk sejak 60 tahun
terakhir (sejak Israel berdiri tahun 1948). Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi
Liga Arab yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk negara-negara
Eropa mengutuk keras serangan Israel ke Gaza, tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan
serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan cadangan sekitar 6500
orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud Barak, yaitu menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan bangsa lain. Ia
adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. Disana terbentang benang merah panjang,
sejak konflik antara Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa sallam dengan kaum Yahudi di
Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi, konflik antara Yahudi dengan negara-negara
Eropa, konflik antara Musa dengan Fir'aun, bahkan konflik antara Yusuf 'alaihissalam
dengan saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta'ala dengan
iblis laknatullah 'alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah Anda akan tersesat
dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman modern yang penuh kesulitan dan derita,
merupakan bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri adalah bangsa "terkuat di dunia", dalam
arti: merekalah satu-satunya ras manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah
Ta'ala.


Sejarah Kebangkitan Yahudi

Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali catatan-catatan
perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan menemukan bahan-bahan untuk memahami
peta konflik ini secara utuh. Jika tidak demikian, maka kita hanya akan "konsumen
terbaik" berita-berita media massa seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai
sejak era Perang Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, Intifadhah akhir
80-an, tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh Ahmad
Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll. sampai serangan Israel saat ini. Dan rata-rata model
peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para pelakunya saja.

Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia, dengan memohon petunjuk
dan pertolongan Allah Ta'ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim 'alaihissalam. Ibrahim memiliki dua
anak, Ismail dan Ishaq 'alaihimassalam. Ismail nanti menurunkan keturunan bangsa Arab
Adnani, lalu Ishaq mempunyai anak Ya'qub 'alaihissalam. Nah, Ya'qub inilah yang kemudian
disebut Israil, sehingga anak-anak Ya'qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju kepada anak-anak
Ya'qub. Mereka adalah Yusuf 'alaihissalam, Benyamin, dan 11 saudara Yusuf. Semuanya
berjumlah 13 orang; sama jumlahnya dengan matahari, bulan, dan 11 bintang yang terlihat
dalam mimpi Yusuf sedang bersujud kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan "angka
keramat" bagi Yahudi sampai saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari
karakter 13 ini.

[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu: sifat keshalihan dan
sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari garis Yusuf 'alaihissalam. Sedangkan
sifat durhaka diturunkan dari sifat saudara-saudara Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana
sudah tampak bakat-bakat kelicikan, dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu
sebatas potensi, bukan kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat Ya'qub, seluruh
anak-anaknya tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani
Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun setelah
kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti agama selain Islam. Jika
mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun.
(Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf 'alaihissalam bersentuhan dengan
peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf membantu bangsa Mesir, mereka diberi lahan
luas oleh penguasa Mesir di wilayah Kan'an. Disana Ya'qub dan anak-keturunannya mulai
membangun kehidupan. Mereka memilih tinggal di Kan'an sebab dekat dengan Mesir yang
makmur, sedang di tempat asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan Ya'qub
sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan bangsa Mesir dengan
anak-keturunan Ya'qub lama-lama menjadi buruk. Alih-alih Mesir akan menghargai jasa-jasa
Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah
ditinggal oleh Ya'qub dan Yusuf, nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir.
Hal itu bisa terjadi karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas bangsa
Mesir. Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada Yusuf,
kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan saja karena
perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan karakter sebuah bangsa (Bani Israil).
Bayangkan, selama ratusan tahun mereka tertindas oleh sistem tirani di Mesir. Bani Israil
diberi anugerah berupa bakat-bakat kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di
bawah sistem perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa.
Oleh karena itu Allah Ta'ala mendatangkan Musa dan Harun 'alaihimassalam untuk
menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan Fir'aun dan
rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari penindasan Fir'aun. Dalam Al
Qur'an: Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari
Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang
hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka
lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku." (Al A'raaf: 104-105). Musa tidak pernah
diperintahkan untuk memerangi Fir'aun, tetapi membawa Bani Israil tinggal di Palestina
(waktu itu namanya bukan Palestina). [Perlu dicatat juga, Fir'aun (Pharaoh) adalah gelar
raja-raja Mesir, bukan nama seseorang. Sedangkan Fir'aun yang tenggelam di Laut Merah
bukanlah Fir'aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut janggutnya oleh Musa.
Fir'aun dalam Al Qur'an lebih mencerminkan tabiat kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir'aun dan bala tentaranya
tenggelam di Laut Merah. Lalu mereka menetap di Ardhul Muqaddas (Palestina) setelah
berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di dalamnya. (Al Maa'idah: 20-26). Ini adalah
peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era Ya'qub dan Yusuf di wilayah Kan'aan. Musa
dan Harun mendampingi Bani Israil sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani
Israil tidak henti-hentinya menguji kesabaran Musa 'alaihissalam. Betapa banyak
kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri, Musa dan
Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di Palestina, sedang mereka
mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa agar membuatkan berhala untuk disembah seperti
suatu kaum tertentu; mereka mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas;
mereka hendak membunuh Harun 'alaihissalam karena selalu menasehati mereka; mereka hampir
tidak melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena terlalu banyak
bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta bawang, menitumun, kacang adas;
dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa, sehingga Nabi shallallah 'alaihi wa sallam pernah
bersabda, "Semoga Allah merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini
(ujian yang menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar." (HR. Bukhari-Muslim) . Sangat
mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan Musa 'alaihissalam. Di dalamnya terdapat
sangat banyak inspirasi untuk menghadapi konspirasi global seperti saat ini. Orang-orang
Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal di era nenek-moyang mereka,
Musa benar-benar mereka sia-siakan. Musa itu lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin),
daripada Yahudi laknatullah itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan kristalisasi dari
sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak perilaku saudara-saudara Yusuf
'alaihissalam, masa perbudakan di Mesir, kedurhakaan mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman,
Zakariya, Yahya, Isa, dan Nabi-nabi lainnya 'alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di
hadapan Nabi shallallah 'alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan sebuah
ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: "Lalu ditimpahkanlah kepada mereka
(kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari
Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh
para Nabi secara tidak hak. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka
dan melampaui batas." (Al Baqarah: 61).


[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah Kerajaan Nabi Sulaiman
'alaihissalam di Palestina. Beliau adalah putra Nabi Dawud 'alaihissalam dari salah satu
isterinya. Nabi Dawud adalah seorang pejuang yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di
Palestina. (Oleh karena itu bangsa Barat mengenal kisah "David and Goliath"). Beliau ikut
dalam pasukan Bani Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi
Samuel 'alaihissalam. Al Qur'an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.

[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya yang sangat besar.
Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, sebagai harta terpendam "King Solomon".
Sampai saat ini kekayaan itu masih menjadi misteri, apakah sudah terkuak atau masih
tersembunyi di balik permukaan bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan
Bani Israil semakin merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari
Kerajaan Byzantium (Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa' ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar ke berbagai belahan
dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak benua India, dan sebagainya.
Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar
mendapat keamanan di Eropa, mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk
menghasut Romawi agar memusuhi Isa 'alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul
Kahfi adalah sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih 'alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke Madinah bukan hanya
karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi. Tetapi mereka juga berniat
menjemput Kenabian terakhir yang akan datang setelah Musa dan Isa 'alaihimassalam. Mereka
ingin "memaksakan" agar Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka
butuhkan agar mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan
Sulaiman. Namun setelah mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak mereka,
tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al Qur'an disebutkan: "Dan
ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab dari sisi Allah (Al Qur'an) yang
membenarkan keberadaan apa yang ada di sisi mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka
selalu memohon (kedatangan Nabi) agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika
telah datang (Kenabian dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya. Maka
laknat Allah atas orang-orang kafir itu (Yahudi)." (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh ke tangan bangsa
Arab, anak keturunan Ismail 'alaihissalam. Itu pun turun di Makkah, bukan Madinah tempat
mereka tinggal disana. Yahudi telah habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus
Musa 'alaihissalam ini. Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama budaya
Arab, berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anaknya dengan istilah Arab, bukan istilah
Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara kabilah besar Aus dan
Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus, sebagian mendukung Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yahudi marah
ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90). Apalagi dalam Al
Qur'an dijelaskan sangat banyak kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh
Allah. Bahkan tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa 'alaihissalam
diturunkan. Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya adalah: "Tidaklah aku
diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan Bani Israil." Meskipun Isa
adalah bagian dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat muram wajah kaum Yahudi. Isa
ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil (bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari
jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku
Bani Israil. Isa dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani Israil
sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi setelah Kenabian terakhir jatuh
ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallah
'alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku jahat kaum Yahudi. Tetapi ia juga
menyebabkan kaum Yahudi tercabut akar-akarnya dari Jazirah Arab. Sejak Islam datang,
kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, seperti kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga
benteng terakhir mereka di Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi shallallah 'alaihi wa sallam dan
Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung
dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai
negara Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan
sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik. Mereka tidak berbaur
dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi. Mereka memelihara
warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas.
Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan.
Dalam ritual pengorbanan, mereka membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu
dipakai untuk persembahan. Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang
di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk mengalirkan darah.
Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai tubuhnya penuh luka tertusuk paku,
lalu darah mengucur ke bawah. Ritual semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi
diusir dari negara-negara tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol melarang
Yahudi tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam soal ritual
keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke negara-negara lain
yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu itu rakyat Eropa sedang mulai eksodus
menuju benua Amerika yang baru ditemukan oleh Columbus. Yahudi ikut di dalamnya. Sampai
Amerika merdeka dari tangan Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu
Benyamin Franklin mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut
Yahudi seperti bangsa "vampire" yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat sekali
ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang Yahudi di Eropa. Namun
sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan Benyamin Franklin tersebut,
sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun silam, benar-benar terjadi. Krisis
finansial di Amerika saat ini adalah akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli sejarah, yaitu kedatangan
Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian ini terpisah jarak sekitar 700 atau 800 tahun
sejak era Nabi shallallah 'alaihi wa sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa
kejahatan Yahudi di Madinah telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di
tengah-tengah masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam
yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama mereka membayar
jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi pelayanan dan penghormatan,
layaknya warga negara Islam. Tentu saja, Yahudi berusaha "bersikap sopan". Di seluruh
dunia tidak ada yang memperlakukan mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam.
Disini Yahudi tidak mungkin akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi
pula, Yahudi waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk
oleh Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani, Yahudi tidak
melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi berlaku baik. Tanpa diduga, ternyata
disinilah Yahudi mempersiapkan segala konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan
Khilafah Islam justru dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium kejahatan di
seluruh dunia, seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan beberapa jurus maut
untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

(a) Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat Turki Utsmani.
Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi kekafiran secara langsung, tetapi
menyebarkan filsafat humanisme August Comte. Dengan falsafah itu diharapkan anak-anak
Turki akan kehilangan sifat furqan akidah Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan
saja. Tujuan dari gerakan ini adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat
Islami. Karena itu pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada
Sultan Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang terkutuk.

(b) Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia Islam. Dengan
ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah Islamiyyah. Kaum Muslimin terpecah-belah
dalam berbagai bangsa yang egois sesuai etnik dan wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah
tetap berdiri, mustahil "Kerajaan Yahudi" dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit.
Kalau Anda saksikan bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, masing-masing
saling konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu
Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan negara-negara Arab
dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka hasil-hasil penelitian bahwa Al
Afghani adalah anggota setia Freemasonry. (Salah satunya buku terbitan WAMI tentang
gerakan-gerakan pemikiran keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat
sifat Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.

(c) Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham demokrasi
seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri Islam. Paham ini semakin
mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-peluang kebangkitan semakin tipis, sebab
demokrasi mengikuti suara terbanyak, sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti
hawa nafsunya.

(d) Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk agen-agennya di Amerika,
Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya negara Israel pada tahun 1948. Secara
politik, Inggris berada di balik pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi
secara potensial, Amerika mendukung penuh Israel. Dalam diplomasi internasional, isu
Holocaust dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang
dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar
ambisi-ambisinya.

(e) Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa, membuat satuan
intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia, memiliki lembaga pusat
ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai Hollywood, dunia akademis, dunia riset,
fashion, dan sebagainya. Termasuk dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang
kita kenal sebagai SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) . Inilah kenyataan yang
kemudian disebut sebagai: "Yahudi menggenggam dunia!" Bahkan negara sekuat Amerika pun
bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama yang sebentar lagi
dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak jaman Musa, Dawud,
Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa sallam. Yahudi sangat
membutuhkan "Kerajaan Bani Israil" untuk mengalahkan orang-orang kafir. Mereka sebenarnya
beriman kepada Allah, dalam arti mereka percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat
mereka mulia, dan musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah
jelas di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka mereka
tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka hendak
mendirikan "Kerajaan Bani Israil" dengan kekuatan tangan, otak, dan uang mereka sendiri.
Dan hal itu berhasil, tahun 1948 lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin
sebagai orang kafir. Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, sehingga
disebut kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada tiga pilihan
tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia. Mengapa dipilih tiga negara ini? Jelas mereka
telah melakukan perhitungan yang sangat cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke
Palestina, yang dekat dengan sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan
sekitarnya. Namun resikonya, disini akan gganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus mempersiapkan segala
macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya di negara-negara Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik berdarah di
Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena memang "Kerajaan Bani
Israil" merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak ribuan tahun lalu; juga karena
banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris,
Rusia, IMF, World Bank, dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga
disadari banyak agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari,
siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang kafir, meskipun
KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, Turki, dll. banyak orang yang identitasnya
Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi. Bahkan di negara-negara kaya seperti UEA,
Qatar, Bahrain, dll. banyak dijumpai kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan
hasil konspirasi Yahudi untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai, Abu Dhabi,
dan lainnya tidak kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama Samawi (ajaran Ya'qub,
Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa 'alaihimussalam) . Mereka adalah
orang-orang yang sangat arogan dengan etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan
terhadap etnis mereka sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim dalam
soal etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah, marah
ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa
Arab. Mereka menulis "kitab suci" tandingan bagi Taurat (Talmud), menyebut bangsa non
Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai
pewaris "darah biru" Nabi-nabi, merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah
disumpah langsung oleh Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain.
Yahudi benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah mendebat Allah
Ta'ala: "Ana khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min thiin" (aku lebih
baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah).
Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di dunia internasional, adalah perwujudan dari
imperium arogansi. Wajar jika simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa
satanic. Contoh, logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini the red devil. Dan ada
ribuan logo atau lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah.


Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk "Kerajaan Bani Israil" seperti di
masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya membangun negara seperti itu? Toh, mereka
memiliki uang banyak, strategi canggih, serta SDM handal. Tidak sulit bagi Yahudi
membangun negara di sebuah sudut dunia. Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan
modal lebih buruk dari Israel. Negara seperti Bosnia, Chechnya, Kamboja, Myanmar, Timor
Leste, dan lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa
Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik Ummat Islam?
Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus menegakkan "Kerajaan Bani
Israil" di Palestina, mengapa mereka harus juga menghancurkan peradaban manusia di dunia?
Mengapa Yahudi tidak cukup menempuh cara-cara politik atau militer, tanpa harus
menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel
ditempuh bukan hanya dengan menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan
menyebarkan kehancuran peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini,
adakah yang selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World
Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan lainnya? Hingga ke
anak-anak balita pun, banyak "diracuni" oleh kartun-kartun Walt Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat mempercayai khabar Al
Qur'an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat Al Qur'an, tetapi anehnya mereka bersikap
konfrontatif terhadap Al Qur'an. Yahudi sangat mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa'
berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan
membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang besar."

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu,
Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka
merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami
membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih
besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman
bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan
muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu
memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Surat Al Israa': 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman dihancurkan oleh
Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-berai. Adapun setelah kehancuran pertama
ini, mereka akan menjadi kuat dan bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat
sekarang ini, ketika "Yahudi menggenggam dunia". Dan nanti di puncak kezhalimannya,
Israel akan dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu dihancurkan.
Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung saat Yahudi dihancurkan oleh
Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu itu Yahudi belum memiliki
wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri orang. Adapun saat ini Yahudi sudah
bermukim di suatu (Palestina) tempat sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani "jadwal sejarah" sebagaimana disebutkan Al Qur'an di atas.
Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk merajalela di muka bumi. Hal itu
terbukti sebagaimana kenyataan saat ini. Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi
Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6 juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di
dunia. Yahudi tidak merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel, bahkan tidak cukup
dengan menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan segala
kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin melawan Muslim
Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab dan Ummat Islam sedunia, atau segala
peradaban manusia. Tetapi mereka ingin melawan Allah Ta'ala dengan segala kekuatan yang
mereka miliki. Yahudi adalah satu-satunya ras manusia yang berani menghina Allah dengan
ucapan mereka: "Tangan Allah terbelenggu." Kemudian mereka dikutuk oleh Allah karena
perkataannya itu. (Al Maa'idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, "Sesungguhnya
Allah itu fakir dan kami kaya raya." (Ali Imran: 131). Disini ada dendam sejarah yang
amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur'an, tetapi sekaligus menentang eksistensi
agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis yang mengimani Allah, tetapi
mendurhakai- Nya. Untuk merealisasikan maksudnya, Yahudi mengangkat simbol "Messiah", yang
pada hakikatnya adalah dajjal laknatullah. Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah
terbesar bagi orang-orang beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina. Ia adalah sebagian
penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah mereka. Awalnya, Bani Israil hanyalah
sebuah kaum dengan perilaku tertentu. Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang
melahirkan watak durjana luar biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu "telah
disiapkan" untuk menjadi cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran,
mengapa A Qur'an banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di
Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari negeri-negeri Islam).
Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi adalah memahami sifat-sifat mereka
dalam Al Qur'an (khususnya Surat Al Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan
Israel ke Gaza bukan serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new
aggression!


Wallahu a'lam bisshawaab.

sobat muda said...

Ketika membaca profil Anda (ALI5196) yang menyatakan "saya orang Indonesia yang menyadari kepalsuannya" dan menganggap Muhammad Rasululloh SAW(Semoga Sholawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Beliau, keluarganya yang suci dan para sahabatnya) adalah lelaki yang bejat moral, saya berkata, aha ... ini dia! ternyata virus DUNGU telah menjangkiti orang ini. Para ahli memberi code virus ini JIL. Ciri-cirinya:
1. Bodoh (pengaruh terlalu banyak baca filsafat ngawur, rokok, miras, napza dan berzina)
2. Malas (Malas mencari kebenaran, dan cari nafkah yang halal. yang penting gue kenyang dan perlente, perkara duitnya dari zionis yang nyuruh obok-obok & memutarbalikkan fakta dia gak peduli)
3. Rendah Diri yang keterlaluan (menganggap Amerika dan Setan belang selalu benar, silau dengan hal-hal duniawi-maklum terlalu lama hidup miskin-kemana-mana pake sarung)
4. Menganggap kehidupan dunia ini kekal (karena kebodohannya) sehingga mau saja di dikte setan belang untuk menyampaikan info sesat ke orang lain!
5. Saya persilakan yang lain untuk menambahkan.

Cara paling efektif untuk melenyapkan virus ini adalah dengan memenggal leher yang bersangkutan.

No Other Blog Info said...

tidak ada untungnaya anda menulis seperti ini, kebebasan untuk mem8ilih agama adalah hak tapi bukan berarti kita bebas menggunjing agama lain, jika anda punya kepercayaan yang bebas atau menganut kebebasan dalam memiliki kepercayaan sebaiknya anda lebih memperdalam ilmunya

andy said...

I Liked the answer of this German Muslim Scholar, When he was asked about terrorism and Islam,

He Said:
"Who started the First World War? Muslims?
Who started the second Worl War? Muslims?
Who Killed about 20 millions of Aborigines in Australia? Muslims?
Who Threw Nuclear bombs on Hiroshima and Nagasaki? Muslims?
Who Killed more than 100 millions of Red Indians in North America? Muslims?
Who killed more than 50 millions of Red Indians in Southa America? Muslims?
Who took about 180 millions of African people as slaves and killed 88% of them and threw in atlantic oceans? Muslims?
No! They were not Muslims. 1st of all you have to define terrorism properly...
If a non-Muslim does something bad, it is a crime.... But if a Muslim does same he is a terrorist???
Remove this double standard then come to the point!!!